Leo Kristi adalah musikus yang tergolong langka. Karena ideallisme pria paruh baya (59 tahun) ini yang tidak mau berkompromi dengan selera pasar. Pilihan yang diambilnya itu yang menyebabkan ia tenggelam dari hingar bingarnya industri musik. Nama aslinya adalah Leo Imam Soekarno, memiliki gitar kesayangan yang diberi nama "Keris Sakti" yang dijadikan sebagai nama panggungnya, yaitu "Leo Kristi". Di jaman generasi majalah Aktuil Bandung, Leo sangat dikenal dan lagu-lagunya sering dinyanyikan dalam lomba "folk-song" atau ketika anak muda nongkrong-nongkrong main gitar. Albumnya yang bertajuk "Nyanyian Fajar" yang dirilis tahun 1977 diterbitkan oleh majalah Aktuil, album itu cukup populer di kalangan penggemar musik alternatif. Memang selera pasar dan keinginan produser Glodok menganggap menggarap Iis Sugianto, Dian Pieshesa, Christine Panjaitan, Endang S Taurina, dll lebih gampang dapat untung gede ketimbang menggarap lagu-lagu "eksentrik" model begituan.
Latar belakang Leo Kristi bukanlah dari keluarga yang kekurangan secara materi, ayahnya cukup berada dan memiliki jabatan yang cukup bergengsi, namun panggilan hatinya lebih memilih bergaul dengan rakyat jelata dan bahkan rela meninggalkan bangku kuliahnya di Arsitektur ITS.
Dalam Album Konser Rakyat Nyanyian Fajar tersebut terdapat 12 lagu antara lain Lenggalenggung Badai Lautku, Nyanyian Maria, Di deretan rel-rel, Beludru Sutera Dusunku, O Danae, Oh Surabaya, Bencara Tanah Negara, Nyanyian Fajar, Di atas Sukapura I, Nyanyian Musim, Fajar Sampai Fajar, Sendiri serta Katia Amanda dan Aku.
Lengganlenggung Badai Lautku, walaupun bertema sedih yaitu tentang seorang nelayan muda yang pulang hanya tinggal perahu, meninggalkan isteri yang lama menunggu… tetapi dinyanyikan dengan irama yang rancak seperti keriangan nelayan yang tetap optimis meskipun harus mengarungi ganasnya ombak.
Di deretan rel-rel, menampilkan ciri khas Leo yakni menyanyi dalam gaya bertutur yang diskriptip. Ciri ini menempatkan dia dijuluki sebagai "troubadour" atau penyanyi balada yang menyuarakan hati rakyat kecil dari Indonesia. Pilihan Leo hampir mirip dengan gaya Iwan Fals pada awal-awal kemnculannya, namun lirik Leo Kristi sangat serius tidak seperti Iwan yang sentilannya dibalut dengan kata-kata jenaka yang mebuat kita tersentil namun tetap tersenyum (sambil mengumpat "Sialan "..).
Dari album Nynyian fajar, aku terhenyak juga ketika mendengarkan kembali Bencana Tanah Negara. Ketika lagu ini dibuat, gempa bumi dan bencana lain tidak terjadi sesering akhir-akhir ini, namun spirit lagu itu sangat relevan sekali dengan kondisi saat ini. Seaka-akan Leo Kristi itu "waskita" atau "limpat seprapat wis tamat" yaitu bisa tahu sesuatu sebelum terjadi. Bisa saja itu perasaan saja.. lha Ebit G Ade mencipta lagu yang sering jadi background tayangan bencana di televisi itu juga ketika kita masih dibiang hidup dalam kondisi tata tentrem kerta raharja…..
Nyanyian Fajar bercerita tentang lahirnya harapan karena terbitnya "Fajar". Saya hanya berspekulasi Leo Kristi termasuk pengagum Bung Karno, buktinya nama beliau juga ditaruh dalam kelengkapan identitasnya.
Oh Surabayanya Leo berbeda dengan lagunya Dara Puspita. Di lagu ini Leo bercerita tantang keriuhan kota besar yang bernama Surabaya (tentu keriuhan ketika lagu itu ditulis nggak ada apa-apanya dibanding kebisingan Surabaya saat ini.. namun toh isinya masih relevan).
Lagi-lagi di lagu Fajar Sampai Fajar. Leo kembali berceritera tentang kegembiraan nelayan di pesisir. Darah Madura yang mengalir di nadi Leo rupanya tidak pernah bisa melepaskan seniman ini dari kemeriahan nelayan dan pesisir.